Exit Strategy Dimulai Hari Pertama, Bukan Hari Terakhir

Tuntutan terhadap program CSR dan ESG di Indonesia semakin serius. Sejak diterbitkannya POJK Nomor 51 Tahun 2017 tentang keuangan berkelanjutan, perusahaan dituntut membuktikan dampak sosial yang terukur dan berlanjut, bukan sekadar laporan kegiatan yang rapi.

Ada satu momen yang hampir selalu terjadi menjelang akhir program pemberdayaan masyarakat. Seseorang di ruangan rapat bertanya pelan: “Setelah kita pergi, siapa yang akan melanjutkan ini?” Ruangan menjadi sunyi. Semua orang tahu jawabannya, dan semua orang tahu bahwa pertanyaan itu seharusnya muncul dua atau tiga tahun yang lalu, di awal program, bukan di penghujungnya.

Inilah tantangan nyata program CSR, ESG, dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia hari ini. Program selesai tepat waktu, anggaran terserap efektif, target tercapai. Namun, satu pertanyaan menentukan nilainya yang sesungguhnya: apakah dampaknya masih berjalan setelah tim ditarik?

Mengapa Exit Strategy Selalu Terlambat Dipikirkan?

Mari kita jujur sebelum membahas solusi. Exit strategy sering terlupakan, bukan hanya karena kelalaian, tapi ada alasan struktural yang melatarinya.

Tekanan hasil jangka pendek seringkali lebih penting daripada perencanaan jangka panjang. Manajemen perusahaan dan donor ingin melihat hasil yang bisa diukur sekarang, seperti jumlah orang yang dibantu, kegiatan yang terlaksana, dan anggaran yang digunakan. Namun, keberlanjutan program seringkali sulit diukur dalam waktu singkat.

Bagi tim yang bekerja keras, exit strategy terasa seperti meninggalkan orang-orang yang mereka bantu. Mereka ingin membantu dan hadir untuk masyarakat. Namun, menyiapkan kondisi di mana kehadiran mereka tidak lagi diperlukan memerlukan perubahan pola pikir yang besar.

Ketergantungan pada organisasi luar juga dapat terbentuk tanpa disadari. Ketika sebuah organisasi memiliki sumber daya dan kapasitas yang jauh lebih besar daripada komunitas lokal, ketergantungan adalah hasil yang paling alami. Oleh karena itu, desain program yang tepat sangat penting untuk menghindari masalah baru yang tidak direncanakan.

Exit strategy bukan sekadar dokumen yang menandai akhir dari sebuah program. Lebih dari itu, exit strategy adalah cara kita memandang keseluruhan proses.

Exit strategy adalah pandangan yang kita terapkan sejak awal. Tujuannya jelas: membuat sebuah program yang bisa berjalan tanpa bantuan kita lagi.

Kalau kita rancang program dengan exit strategy yang tepat, maka program itu akan terlihat beda dari awal. Contohnya, siapa yang akan buat keputusan, siapa yang pegang anggaran, dan siapa yang pimpin rapat, semua itu bagian dari strategi transisi. Bukan hanya soal operasional sehari-hari.

6 Langkah Membangun Exit Strategy yang Efektif dalam Program CSR dan Pemberdayaan Masyarakat

1. Define — Kenali Dulu Apa yang Sudah Ada

Sebelum membuat rencana, kita harus tahu apa yang sudah dimiliki komunitas. Kita perlu memetakan sumber daya manusia, lembaga lokal, jaringan relasi, sumber daya ekonomi, dan pengetahuan yang sudah ada.

Dengan memetakan ini, kita bisa tahu dari mana harus memulai. Kalau tidak, program kita bisa saja dibangun di atas fondasi yang tidak kuat. Saat organisasi kita pergi, kita akan kaget karena fondasi itu tidak cukup kuat.

2. Desain — Keberlanjutan Masuk ke Dalam Logika Program

Keberlanjutan harus menjadi bagian dari desain, direncanakan sejak awal perumusan program. Setiap aktivitas perlu dijawab dengan pertanyaan yang sederhana tapi menentukan: apakah ini membangun kapasitas lokal, atau hanya menyelesaikan masalah hari ini?

Dua kegiatan yang tampak serupa bisa menghasilkan dampak jangka panjang yang sangat berbeda. Tergantung siapa yang memimpin, siapa yang belajar, dan siapa yang akhirnya memegang kendali.

3. Implement — Transfer Kepemimpinan Dimulai Sejak Dini

Tahap implementasi adalah saat niat bertemu kenyataan. Saatnya melihat apakah rencana yang telah dibuat dapat berjalan dengan baik. Masyarakat lokal perlu diberi pengetahuan dan kekuatan untuk mengelola diri mereka sendiri. Mereka juga perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan sehingga mereka dapat belajar dan tumbuh secara mandiri.

Pertanyaan yang sering dilupakan adalah apakah orang yang membantu masyarakat lokal hanya melakukan tugasnya ataukah mereka juga mulai mengambil alih tanggung jawab perencanaan. Perbedaan kecil ini dapat membuat perbedaan besar pada akhirnya. Jika dilakukan dengan konsisten, maka masyarakat lokal dapat menjadi lebih kuat dan mandiri setelah program selesai.

4. Monitor dan Analisis — Ukur Kesiapan Komunitas

Pengawasan yang efektif tidak hanya melihat apakah program berjalan sesuai rencana. Lebih dari itu, kita perlu tahu apakah komunitas sudah siap untuk melanjutkan program tersebut.

Beberapa hal yang perlu dilihat:

  • Seberapa banyak keputusan yang diambil oleh komunitas secara mandiri?
  • Seberapa kuat sistem lokal dapat berjalan tanpa bantuan dari luar?

Keputusan untuk mengakhiri program sebaiknya didasarkan pada kesiapan komunitas, bukan hanya karena kontraknya sudah habis.

5. Share Lessons — Pengetahuan yang Tersimpan Tidak Memberikan Dampak

Setiap program menghasilkan pembelajaran yang sangat berharga. Sayangnya, pengetahuan ini sering disimpan di folder laporan yang tidak pernah dibuka lagi. Agar organisasi bisa memberikan dampak yang lebih luas, mereka harus mendokumentasikan apa yang berhasil, apa yang gagal, dan mengapa. Setelah itu, mereka harus menyebarkan pengetahuan ini kepada praktisi lain.

Dalam ekosistem sosial Indonesia yang terus berkembang, berbagi pembelajaran adalah salah satu cara untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan sektor secara keseluruhan.

6. Keluar dengan Tanggung Jawab — Transisi, Bukan Penarikan

Ketika masyarakat setempat sudah siap dan sistem sudah berfungsi dengan baik, serta komunitas sudah memimpin – maka sudah waktunya untuk mulai meninggalkan mereka secara bertahap.

Keluar dengan tanggung jawab berarti meninggalkan komunitas yang sudah memiliki kemampuan, percaya diri, dan sistem yang baik untuk melanjutkan perubahan dengan mandiri. Ini bukan hanya tentang meninggalkan bangunan atau catatan yang rapi, tapi tentang memberikan mereka kekuatan untuk terus maju sendiri.

Seperti Apa Keberhasilan yang Sesungguhnya?

Ada sebuah program pertanian terpadu di Jawa Tengah — bukan program besar, bukan nama yang terkenal — yang dijalankan oleh sebuah perusahaan sebagai bagian dari program CSR mereka. Setelah tiga tahun, mereka menarik diri. Setahun kemudian, kelompok tani yang terbentuk masih aktif. Bahkan berhasil menegosiasikan akses ke pasar baru secara mandiri.

Yang membuat perbedaan bukan besarnya anggaran.

Satu keputusan desain di awal yang mengubah segalanya: ketua kelompok dipilih oleh komunitas sendiri sejak hari pertama, dan seluruh pencatatan keuangan dipegang oleh anggota lokal.

Itulah exit strategy dalam bentuknya yang paling sederhana — keputusan-keputusan kecil di awal yang menentukan siapa yang memegang kendali pada akhirnya.

Pertanyaan yang Perlu Dijawab Lebih Jujur

Keberlanjutan sering kali dibicarakan sebagai tujuan yang ingin dicapai. Namun, jarang sekali kita membicarakannya sebagai pilihan desain yang membutuhkan kompromi nyata, termasuk kompromi terhadap kenyamanan organisasi itu sendiri.

Pertanyaan yang paling relevan mungkin tidak hanya “apakah program kami berkelanjutan?”

Melainkan, pertanyaan yang lebih penting adalah “apakah kami rela menyerahkan kendali lebih cepat dari yang terasa nyaman bagi kami?”

Keberlanjutan sebenarnya ditentukan oleh apa yang tetap berjalan setelah organisasi tersebut pergi. Program CSR dan pemberdayaan masyarakat yang benar-benar berhasil adalah program yang merancang kepergiannya sejak hari pertama mereka hadir.

What do you think?
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Insights

More Related Articles

Tidak Semua Program Pemberdayaan Dapat Disebut Creating Shared Value

ISTILAH Creating Shared Value atau CSV semakin sering digunakan dalam pembahasan tanggung jawab sosial perusahaan. Berbagai program, mulai dari pelatihan

Lingkungan, Masyarakat dan Bisnis Merupakan Sebuah Sistem yang Tidak Terpisahkan

Ditulis oleh: Dr. Rio Zakarias Widyandaru – Founder and Director Socialimpact.ID Minggu lalu pesawat yang saya tumpangi berputar-putar di atas

Kenapa LFA Menjadi Fondasi Penting dalam Perencanaan Program?

  BANYAK program dimulai dengan niat baik. Namun di lapangan, niat saja tidak cukup untuk memastikan dampak yang terukur dan