‘Exit strategy’ merupakan rencana yang rinci untuk mengalihkan tanggung jawab program kepada masyarakat lokal, memastikan bahwa tujuan utama program tetap tercapai tanpa tergantung pada sumber daya eksternal. Hal ini dilakukan dengan memberdayakan komunitas lokal yang sebelumnya terlibat dalam program, sehingga mereka dapat melanjutkan upaya untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Prinsip utama dari ‘exit strategy’ adalah untuk menciptakan kemandirian di tingkat lokal, sehingga warisan program dapat dijaga dan diperkuat oleh mereka yang telah menerima manfaat dari program tersebut.
Mengembangkan langkah exit strategy yang efektif
Terdapat tiga pendekatan utama yang dapat diambil dalam mengimplementasikan exit strategy:
- Phasing Down: Mengurangi kegiatan program secara bertahap sambil melibatkan organisasi lokal untuk menjaga keberlanjutan program.
- Phasing Out: Menarik diri dari program tanpa menyerahkannya kepada lembaga lain, namun memastikan bahwa komunitas lokal telah siap untuk melanjutkan program tersebut.
- Phasing Over: Mentransfer kegiatan program kepada lembaga atau komunitas lokal dengan fokus pada peningkatan kapasitas dan kelembagaan mereka.
Langkah-langkah Menuju Dampak Berkelanjutan
Untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan melalui exit strategy, langkah-langkah berikut dapat diambil:
- Rencanakan exit strategy sejak awal perencanaan program.
- Bangun kolaborasi dan kemitraan lokal dengan melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat setempat.
- Tingkatkan kapasitas dan kelembagaan penerima manfaat untuk memastikan keberlanjutan program.
- Persiapkan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan exit strategy.
- Lakukan fase penurunan secara bertahap untuk memastikan transisi yang lancar.
Dengan menerapkan exit strategy yang tepat, program-program sosial dapat meninggalkan dampak yang berkelanjutan, mengarah pada kemandirian dan kemajuan yang berkelanjutan bagi masyarakat yang dilayani. (red)

