8 Alat Ukur untuk Menilai Kinerja Program CSR Perusahaan

“Kemajuan tanpa pengukuran adalah ilusi.” – Henri Bergson

 

Program Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bagian penting bagi perusahaan untuk berkontribusi pada masyarakat dan lingkungan.

Seperti kutipan di atas, tanpa pengukuran yang tepat, sulit untuk mengetahui efektivitas program CSR dan dampak positifnya. Perusahaan harus menyesuaikan alat ukur kinerja CSR dengan tujuan dan sasaran spesifik perusahaan serta memastikan bahwa pengukuran dilakukan secara berkala untuk memonitor kemajuan.

Di sisi lain, hal yang menjadi penting adalah kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan alat ukur yang efektif dan mencapai hasil yang signifikan dalam program CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan.

Berikut Delapan alat ukur yang dapat digunakan untuk menilai kinerja program CSR perusahaan.

  1.  Social Return on Investment (SROI)

SROI merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui berapa besar nilai sosial, lingkungan dan ekonomi yang diciptakan oleh suatu program CSR.

Alat ukur ini memiliki delapan Prinsip, yaitu; Pelibatan Pemangku Kepentingan; Pahami Perubahan; Nilai Perubahan yang Penting; Catat Poin-poin yang bersifat Material; Jangan overclaim; Transparan; Verifikasi Hasil; Be Responsive.

Selain prinsip, terdapat pula enam tahapan yang harus dilakukan, dimulai dari; Establishing Scope and Identifying Stakeholders; Mapping Outcomes; Evidencing Outcomes and Giving them a value; Establishing Impact; Calculating the SROI; dan diakhiri Reporting, Using, and Embedding.

 

  1. Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM)

Indeks Kepuasan Masyarakat bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan penerima manfaat pada program CSR Perusahaan yang diperoleh dari hasil pengukuran kuantitatif dan kualitatif terkait pelayanan atau kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan.

IKM mengukur dua hal, yaitu Tingkat Kepentingan program CSR dan Tingkat Kepuasan program CSR yang dihasilkan perusahaan. IKM disajikan dalam empat kuadran matriks yang dapat menjadi evaluasi dan rekomendasi proses kegiatan CSR mana yang menjadi prioritas utama peningkatan prestasi perusahaan.

 

  1. Social Media Engagement

CSR penting untuk branding atau citra bisnis dan cara konsumen memandang peran perusahaan. Branding menunjukkan bahwa perusahaan lebih bertanggung jawab secara sosial dan memiliki reputasi baik yang disukai konsumen.

Media sosial dapat menampilkan tujuan dan citra perusahaan kepada publik, dan pengguna media sosial dapat membantu mendorong tumbuhnya partisipasi. Konsumen yang mengikuti sebuah brand di media sosial cenderung melakukannya karena mereka menyukai apa yang diperjuangkan brand tersebut, serta komunitas yang mereka ikuti.

 

  1. Social Licensed to Operated Index (SLOI)

SLOI adalah indeks peluang perusahaan untuk menguatkan hubungan dengan stakeholder, meningkatkan reputasi dan persaingan pasar dan akses secara berkelanjutan terhadap sumber daya masyarakat.

Boutilier & Thomson, mengklaim bahwa tingkat SLOI yang diberikan kepada suatu perusahaan berbanding terbalik dengan tingkat risiko sosial politik yang dihadapi perusahaan. SLOI yang lebih rendah menunjukkan risiko yang lebih tinggi.

 

  1. Indeks Kepuasan Karyawan

Menentukan Indeks Kepuasan Karyawan dalam Perusahaan akan memainkan peran besar dalam menentukan apakah inisiatif CSR Perusahaan bisa berhasil di Internal.

Sebuah studi yang diterbitkan Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI) mengatakan bahwa program CSR kepada internal merupakan salah satu aspek penting pada tanggung jawab sosial sebuah organisasi.

Peningkatan Indeks Kepuasan Karyawan melalui program CSR Internal dapat membantu perusahaan dalam mencapai tujuannya.

 

  1. Customer Retention Rate

International Journal of Corporate Social Responsibility dalam artikelnya mengatakan bahwa loyalitas pelanggan merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan dan profitabilitas perusahaan.

Ketika perusahaan menyelaraskan upaya CSR mereka dengan inisiatif lokal atau global yang memberikan dampak positif pada masyarakat dan keyakinan pelanggan sejalan dengan perusahaan tempat mereka membeli. Konsumen akan “secara aktif merekomendasikan produk terpercaya dan melakukan iklan gratis untuk perusahaan tersebut,” dan mereka akan tetap loyal kepada perusahaan.

 

  1. Employee Turnover Rate

Ada hubungan langsung antara tingkat turnover karyawan dan perusahaan yang menjalankan program CSR kepada internal. Artikel pada BetterUp, memberikan contoh tentang perusahaan yang mendukung lingkungan kerja yang positif akan menghasilkan lebih banyak karyawan yang puas.

Karyawan yang merasa nyaman dengan rekan kerjanya, puas pekerjaannya, dan nilai-nilai mereka sejalan dengan perusahaan, kemungkinan besar mereka akan bertahan di perusahaan tersebut dalam jangka paanjang.

Semakin banyak perusahaan berinvestasi pada Program CSR Internal di tempat kerja mereka, semakin banyak karyawan setia yang akan bertahan. Karyawan sangat penting bagi bisnis, dan dengan memperhatikan mereka, tingkat pergantian karyawan akan tetap relatif rendah.

 

  1. Revenue Growth Rate

Menghitung tingkat pertumbuhan pendapatan perusahaan anda setiap tahun adalah cara yang sangat berharga untuk menentukan apakah inisiatif CSR perusahaan berjalan sebagaimana mestinya.

Semakin banyak inisiatif CSR suatu perusahaan diterima oleh konsumennya, semakin besar pula keinginan konsumen untuk membelanjakan uangnya untuk perusahaan tersebut.

Artikel oleh Business.com menyatakan bahwa perusahaan yang ingin memaksimalkan keuntungan mereka harus terus menempatkan tanggung jawab sosial perusahaan di garis depan strategi bisnis mereka, karena “pelanggan memperhatikan cara perusahaan bereaksi terhadap sosial dan isu-isu lingkungan.” Hal ini pada akhirnya akan menentukan keputusan konsumen mengenai pembelian dari perusahaan yang bersangkutan. (red)

What do you think?
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Insights

More Related Articles

Tidak Semua Program Pemberdayaan Dapat Disebut Creating Shared Value

ISTILAH Creating Shared Value atau CSV semakin sering digunakan dalam pembahasan tanggung jawab sosial perusahaan. Berbagai program, mulai dari pelatihan

Lingkungan, Masyarakat dan Bisnis Merupakan Sebuah Sistem yang Tidak Terpisahkan

Ditulis oleh: Dr. Rio Zakarias Widyandaru – Founder and Director Socialimpact.ID Minggu lalu pesawat yang saya tumpangi berputar-putar di atas

Exit Strategy Dimulai Hari Pertama, Bukan Hari Terakhir

Tuntutan terhadap program CSR dan ESG di Indonesia semakin serius. Sejak diterbitkannya POJK Nomor 51 Tahun 2017 tentang keuangan berkelanjutan,